Akhwat Centil
Seorang
istri mengomel-ngomel kepada suaminya.
“Ummi gak suka akhwat ini, masa
centil begitu..” gerutunya sewot. Suami diam mendengarkan
omelan istri tercintanya.
“Bayangkan bi, masa chatting di
group heboh-heboh begitu kan di situ ikhwan semua. Kayak wanita murahan aja.
Apa begitu akhlaknya akhwat yang sudah ngaji? Pokoknya Abi jangan berteman
dengannya, wanita seperti itu bisa jadi fitnah. Blokir sekalian facebooknya.”
Ujarnya menggebu-gebu.
Lalu
tanpa menunggu waktu lama segera sang istri meraih handpone suaminya lalu
memblokir akun facebook akhwat yang
dia benci itu, left dari semua group yang ada si akhwat. Putus pertemanan, putus silaturrahmi.
***
Sahabat,
tahukah anda siapa wanita yang dia benci itu?
Dia hanya seorang wanita biasa yang memang memiliki sifat supel, ramah
dan terbuka dengan siapa saja. Mudah akrab dengan orang yang bahkan baru dia
kenal. pembawaannya ceria dan suka bicara (istilah saya cerewet) tapi dia
sangat menyenangkan. Hanya orang-orang yang belum mengenal lebih dalam dengan
dialah yang tidak suka dengannya. Memang dia termasuk akhwat yang tidak begitu
kalem, bahkan mau bergurau lepas dengan lawan jenis. Bergabung dan bercerita
dengan mereka yang mungkin menurut saya kurang sesuai memang.
Ah
ya apa tadi…..dia mentel, centil, tak bisa jaga sikap, sumber fitnah? Baiklah
jika itu memang point negatif yang merupakan kekurangan akhlak si akhwat apa
salahnya sang istri sholehah tadi menyampaikan secara langsung kepada yang
bersangkutan dan menasehatinya dengan nasehat yang penuh hikmah dan lemah
lembut? Apa yang tidak disukai, apa yang yang dia rasa sangat mengganjal,
sampaikanlah. Yang mengherankan, si istri sholeha bahkan belum pernah bertemu
langsung dengan si akhwat, belum pernah taaruf, bercerita dan akrab satu sama lain.
Si istri hanya membaca chat room di
handpone suaminya yang kebetulan si akhwat nimbrung di sana. Nah, dari gaya chattingnya si akhwat, dia sudah
mengambil kesimpulan negatif, lalu dengan penuh kebencian memblokir. Ah,
terkadang kita yang sudah merasa sholeh, sudah merasa banyak amalannya, merasa
lebih lama mengaji hingga belasan tahun, sudah merasa sebagai murrobi yang
bijak lalu dengan mudah membenci sesuatu yang kita sendiri belum tahu pasti
hakikatnya.
Apakah
dengan membenci lalu memblokir akun facebook, si akhwat tahu di mana letak
kesalahannya? Dia mengerti di mana letak kekurangannya, lalu dengan perlahan
penuh proses bisa merubahnya? Bisakah si akhwat tadi tahu apa penyebab dia diblokir?
Saya rasa hal itu takkan terjadi. Justru yang terjadi sebaliknya, ketika si
akhwat tahu dia diblokir tentu yang ada adalah serangan balik. Bertanya kenapa
dan kenapa, apa salahku, dan sebagainya. Bukankah ini hanya akan menambah dosa
baru di atas dosa lama? Merangkai pikiran negatif dan buruk sangka yang tak berujung?
Apalagi si akhwat belum pernah bertemu dan berkenalan dengan si istri
sholehah dan dia sudah diserang lebih
dulu.
Sahabat..
Di
sinilah teori fiqh dakwah itu dipraktekkan. Tidak hanya sekedar dibaca, dikaji
dan disampaikan kembali ke majelis taklim. Bagaimana kita menyikapi orang-orang
seperti si akhwat yang menurut versi si istri sholehah tadi mentel, centil, tak
bisa jaga sikap dan sumber fitnah. Andai dia mau mengenal lebih dekat, mengajak
berkomunikasi dengan baik dan menjalin persahabatan saya yakin si istri
sholehah tadi tidak akan buru-buru membenci apalagi memutuskan silaturrahmi
dengan memblokir facebooknya. Dia akan belajar memahami dan mengenal karakter
orang lain yang berbeda dengannya. Dia akan mendapatkan satu ladang amal dengan
menjadikan si akhwat sebagai sasaran dakwah untuk menerima nasehat yang ahsan
darinya jika memang itu diperlukan. Mengarahkan ketika si akhwat melewati
batas-batas norma, mengajak kembali ke pemahaman yang baik ketika si akhwat
sudah mulai melenceng. Bukankah dakwah itu kewajiban setiap muslim? Mengarahkan
saudaranya karena tak ingin melihat saudaranya masuk ke lubang neraka. Bukankah
kita ingin masuk syurga beramai-ramai? Jangan membenci. Bukankah Rasulullah
telah mengajarkan kepada kita akhlak yang sangat mulia, bagaimana bersikap dan
bertutur kata, di antara akhlak Nabi yang mulia adalah berdakwah dengan
kelembutan. Bahkan Allah Azza wa Jalla
telah berkata kepada Musa dan Harun ketika mengutus mereka kepada Fir’aun :
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan
kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat dan takut”. [Thaha : 44]
Sahabat,..
Kita
tidak pernah menebak bagaimana akhir kehidupan kita kelak, apakah berakhir
dengan husnul khatimah atau su’ul khotimah. Sebelum kita yakin bahwa syurga
adalah tempat kita, maka jangan pernah buru-buru memvonis dan melukai perasaan
orang lain. Saudara kita adalah amanah kita. Ketika kita melihat ada sesuatu
yang tidak sesuai maka tugas kita adalah mengarahkan, mengajak dengan penuh
cinta ke arah yang lebih baik, bukan membenci apalagi memutuskan silaturrahmi.
اِنَّ
الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ اِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يٌنْزَءعُ مِنْ شَيْءٍ
اِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah
berada pada sesuatu melainkan akan membuatnya lebih bagus, dan tidak akan tercabut
sesuatu darinya kecuali akan membuatnya jelek”
[HR.
Muslim]
**RB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar