Selasa, 19 Januari 2016
MENGGAPAI IMPIAN
1991 Senja di Dusun Susup
Aku menyusuri tapak demi tapak jalan
penuh lumpur menuju gubug kecilku. Dengan peluh keringat yang mengucur kutenteng
ijazah SD yang baru saja aku dapatkan. Aku sudah tamat sekolah dasar kini. Akan
kuberi tahu ibu bahwa anak lelakinya sebentar lagi akan menjadi remaja tangguh.
Aku menyuci kakiku yang berlumpur di
samping pintu gubug kami. Mencari ibu di sudut ruang rumahku yang temaram,
sedang apakah ibu?
“Kau sudah pulang nak?” ibu
menyapaku sambil menyeka keringat di keningku. Aku tersenyum bahagia menatap
wajahnya yang teduh.
“Lihatlah bu, aku sudah menyelesaikan
sekolah dasarku. Aku akan melanjutkan ke SMPkan bu?” ucapku sambil menyerahkan ijazah yang
ada di tanganku. Ibu tersenyum lalu menarik
nafas dalam-dalam.
“Kau akan melanjutkan sekolah lagi nak?
Apa tidak bantu ayahmu ke ladang dulu?” hati-hati ibu mengucapkan kata itu. Aku terdiam. Ya aku mengerti
arah pembicaraan ibu. Jangankan membiayai sekolah, biaya hidup kami
sehari-haripun begitu susah. Tapi aku lelaki, sampai kapan aku bergelut dalam
kemiskinan ini? Aku ingin sukses ibu, harus! Tak mungkin aku dengan senang hati
menurunkan kemiskinan ini ke anak cucuku kelak.
“Ibu…” ucapku kemudian
“Aku tak mengharapkan apa-apa dari ayah
dan ibu, aku hanya mengharapkan doa yang tiada henti dari ibu juga ayah. Aku
akan berusaha melanjutkan sekolahku, akan kulakukan untuk membahagiakan ayah
dan ibu nantinya. Aku ingin sekali melihat ibu anggun memakai kebaya cantik
yang baru aku beli kelak, atau melihat ayah tersenyum bangga ketika kuajak
keliling kota dengan mobil pribadiku. Aku berjanji untuk mempersembahkan itu
semua untuk ayah dan ibu, percayalah ibu sayang, bila ibu meridhoi langkahku
insyaallah semua akan mudah…” aku sadar ketika mengucapkan kalimat itu. Ia meluncur begitu saja
dari lubuk hati yang paling dalam. Dan kulihat air mata bening menetes
satu-satu dari sudut mata ibuku.
“Ibu selalu berdoa untukmu nak…berdoa
terus agar Allah selalu memberi yang terbaik untukmu.” Lalu ibu mendekapku dalam pelukan
hangatnya. Ia mungkin sadar anaknya kini bukan bocah ingusan lagi.
***
Aku mencium kening ibu sekali lagi,
mengusap air matanya yang semakin mendesak keluar. Lalu kusalami ayah yang
lebih banyak berdiam diri. Aku tak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Tapi, dari
tatap matanya aku membaca seribu harapan untuk anaknya yang malang ini.
“Baik-baik kau di sana, belajarlah
sungguh-sungguh. Ingat impian yang kau ucapkan pada ibumu beberapa hari yang
lalu.” Ucap ayah sambil
mengusap kepalaku.
“Tentu ayah..aku takkan melupakan
janjiku..” bisikku dalam hati.
Lalu aku memulai sebuah babak baru dalam
kehidupanku. Jauh dari kampung halaman, jauh dari tegur sapa ayahanda, jauh
dari tatap lembut sang ibu, dan jauh dari keheningan dusunku yang tenang. Aku
mulai kembali dari awal, seorang remaja tanggung hendak mencoba mengecap
pahitnya kehidupan. Ah, pahitnya berapa? Sejak kecil aku telah disuguhkan
dengan pahit asam manis kehidupan ini. Hanya satu yang menjadi pemicu
langkah-langkahku, yang membakar panas semangat jiwaku, yakni tatapan sayu sang
ibu. Aku takkan kembali sebelum mempersembahkan yang terbaik untuknya.
1993 Aku kembali dan hendak pergi lagi
ibu..
Wajah ayah yang semakin menua tersenyum
cerah menyambut kepulanganku. Tangga pertama telah berhasil kulewati. Aku
menyelesaikan sekolah menengah pertama dengan
hasil yang memuaskan. Aku akan mengatakan kepada ibu yang senantiasa
memendam rindu “Ibuku sayang…aku berhasil, tapi masih ada tangga-tangga yang
harus aku lalui lagi ibu..”
Ibu membelai rambutku yang keras karna
sering tak bersampo. Memandang lekat kulitku yang semakin kering dan menghitam
akibat sering terpanggang panas mentari. Mungkin ibu berkata “Ah..bocahku
dulu, yang sering merengek dan minta digendong..yang sering menggangguku ketika
sedang memasak di dapur, yang menangis kencang ketika kemauannya tak
kuturuti…kini telah menjadi pemuda tampan dan
gagah.” Aku bisa membaca
eksrpesi wajah ibuku yang sangat bahagia saat itu.
“Kau sangat hebat Malik. Ibu tak sia-sia
membesarkanmu. Kini kemana kau hendak melanjutkan sekolahmu lagi?” kata ibu ketika kami sedang menikmati
tempe goreng dan sayur ubi rebus malam itu.
“Hidup ini memang harus ditantang ibuku
sayang…kita tak boleh menyerah dengan nasib” jawabku sambil tersenyum bak seorang pemuda
yang sok wibawa. Ibu tersenyum, ayah tertawa kecil. Aih… anak lelakinya sudah
seperti seorang motivator. Pikirnya..
“Aku akan mencoba melanjutkan sekolah di
kota lagi. Ibu jangan khawatir, aku bisa menjalaninya sendiri. Yang penting
ayah dan ibu jangan berhenti mendoakanku.”
Ayah menatapku bangga. Aku bukanlah bocah
ingusan yang cengeng lagi ayah. Lihatlah aku sudah besar kini. Aku bukan remaja
tanggung lagi, aku sudah bisa berdiri di atas kakiku sendiri, meski dengan
tetes darah dan air mata yang senantiasa kusimpan erat. Tak perlu kuceritakan
lagi luka ini, agar kalian hanya mendengar berita yang menyenangkan tentang
anakmu yang berprestasi.
Tak ada yang lebih sakit melainkan
kerinduan yang tertahan untuk menatap wajah ibu dan mencium punggung tangan
ayah. Lebih berat dari memanggul berkilo-kilo barang di pasar yang tiap sore
aku kerjakan. Lebih sakit dari bentakkan, hinaan dan caci maki orang yang
sering aku terima tiap hari.
Tidak… aku takkan menangis iri ketika
melihat temanku yang lain diantar jemput orang tuanya di pintu gerbang sekolah,
atau ketika melihat salah seorang temanku dengan bangga menceritakan kekayaan
orang tuanya. Yang aku tangisi tiap malam itu adalah ketika aku tak bisa
merasakan belaian seorang ibu, dan tak mampu menyalami tangan ayah ketika pamit
hendak berangkat sekolah.
Dan kini, aku akan pergi lagi…
“Perjuanganmu masih panjang Malik.
Bertahanlah. Seperti yang kau katakana kau bisa berdiri di atas kakimu sendiri.
Ayah akan melihat itu” pesan ayah sebelum aku pergi. Aku mengangguk. Lalu aku menyalami
tangan ibu dan menatap terakhir kalinya senyum indah yang tak pernah aku
lupakan seumur hidupku.
“Ibu selalu mendoakanmu nak..” kembali ibu memelukku erat. Aku
merasakan detak jantung yang akan kubawa kemana saja aku pergi. Separuh jiwaku
padamu ibu..
***
Rangkaian hari-hari telah mampu membentuk
karakterku yang keras. Hidup adalah perjuangan. Aku takkan menyiakan umur
dengan penyesalan yang tak berujung. Dan malam ini, aku duduk di lantai kamarku
yang pengap. Kelelahan telah menjadi suguhan makan malamku tiap hari dan hari
ini tertatih-tatih aku menyelesaikan seluruh tugas yang harus diselesaikan.
Ujian sebentar lagi dan aku harus meraih kembali prestasi yang selama ini telah
aku pegang. Satu tujuanku saat ini yakni hendak meraih beasiswa untuk
melanjutkan kuliah. Dan..wajah ibu terbayang lagi, juga gurat tua di sudut
bibir ayahku. Malam itu aku tak bisa memejamkan mataku, gerah yang membakar
sekujur tubuhkan membuatku keluar dan menikmati sapuan angin malam.
“Malik..ada titipan surat untukmu..” tiba-tiba Aldi teman sebelah kamarku
menyerahkan sebuah amplop. Aku meraih dan membaca isinya. Pelan-pelan sekali aku
membacanya, tak sedikitpun tanda baca aku lewatkan. Seperti yang dulu-dulu,
surat ayah adalah obat kerinduan yang sangat berharga bagiku. Kali ini ada yang
berbeda. Dari guratan tangan ayah aku membaca sebuah petanda buruk meski aku
belum selesai membaca ujungnya.
Ibu…
Jantungku bergetar hebat. Sedetik darahku
berhenti mengalir. Ibu … Ya, ibuku sakit
keras dan aku harus pulang. Waktu seolah sangat lambat berputar. Tak mungkin
aku menunggu hingga fajar menyingsing. Ini panggilan cinta, dan tak ada yang
mampu menghalangi.
Angin malam menerpa tubuhku yang ringkih.
Aku tak sempat memperhatikan penampilan seperti layaknya remaja tangguh
lainnya. Aku tak sempat memikirnya. Waktuku telah habis terkuras demi sebuah
cita-cita dan impian. Aku pulang, kali ini hendak melihat wajah sendu ibu
dengan kerinduan yang memuncak.
Masih subuh ketika aku menapaki kaki di
sudut kampungku. Perjalanan semalam tak menghentikan langkah kaki untuk segera
bertemu dengan ibu, tidak! Aku harus menggenggam tangannya, membisikkan
kata-kata motivasi untuknya, berjanji akan segera membawanya ke kota dan hidup
lebih layak.
Aku terus berlari menembus dinginnya
angin yang semakin menusuk tajam urat nadiku. Semakin kuat berlari semakin jauh
rasanya ujung yang hendak kuraih. Aduh, ini seperti dalam mimpi-mimpi buruk
itu. Yang kadang-kadang menjelma dalam tidur singkatku dan menghentakkanku
dalam kesadaran lalu berkata ‘ini hanya mimpi Malik, tenanglah semua baik-baik
saja’. Kuhapus air mata yang tidak juga berhenti keluar, ah..air mata ini
kenapa juga dia harus memaksa keluar, ia hanya menghalangi pemandangan mataku. Berpikrlah
positif, bisikku. Tapi entah mengapa aku
mencium hawa kedukaan dari angin yang menerpa wajahku ini.
Mentari menampakkan sinarnya ketika aku
melihat orang-orang sibuk di depan gubukku. Tenda-tenda di pasang, kursi
dijejer rapi. Para ibu-ibu sibuk ke sana kemari entah apa yang mereka kerjakan.
Aku mempercepat langkahku sambil mengatur nafasku yang terengah-engah. Dan ketika
tiba di depan pintu kulihat ayah yang duduk menatap sendu wanita tua yang
tertidur pulas di hadapannya. Tas yang kugenggam tiba-tiba terlepas dari
genggamanku, air mata yang sedari tadi menghalangi pemandanganku kini tumpah
tak terbendung lagi. Apa? Apa yang terjadi? Aku melangkah pelan menuju tempat
ibuku terbaring, orang-orang menatapku iba. Ayah, ia bahkan tak menatap
wajahku. Aku melihat mendung yang menutupi wajahnya.
“Ibu…” bisikku pelan, tak ada
jawaban. Ibu seolah nikmat dalam tidur panjangnya. Kucoba membelai rambutnya,
barangkali dia tersentak dan membuka matanya, kemudian mengucapkan sesuatu
untukku.
“Ibu…sekali
saja..kumohon beri aku kata-kata penyemangat jiwaku. Bukankah ibu akan
menungguku membawakan kebaya cantik? Bukankah ibu akan menanti kedatanganku dan
membawa ibu pergi keliling kota? Ibu..kenapa semua diam?” ucapku tergugu. Tak ada yang mencoba
menjawab kata-kataku. Orang-orang di ruangan ini seolah bisu, hanya ada isak
tangis yang menghiasi sudut-sudut rumahku.
“Ibumu meninggal tadi subuh Malik..dia
sudah tenang kini, sabarlah semoga Allah memberi kekuatan kepadamu.” Salah seorang tetanggaku mencoba
menghiburku. Berarti aku terlambat satu jam saja? Oh, kenapa kaki ini tak kuat juga berlari
kencang? Hinggah aku bisa merasakan hembusan nafas terakhir ibuku? Aku meratapi
nasibku sendiri.
Aku terduduk lemas. Luka ini belum juga
sembuh ibu, aku bahkan mengharap engkau datang dan meraih pundakku dalam
pelukanmu. Aku memang sudah menjelma sebagai lelaki dewasa yang sudah matang
menerima getirnya kehidupan, tapi di satu sisi aku adalah seorang anak yang
rindu tatapanmu. Biarlah…tak perlu aku menangis ketika kau tak hadir disaat
penerimaan hasil akhir belajarku, tak perlu aku menangis ketika kau tak sempat
memasakkan sarapan yang enak untukku tiap pagi, karna tak perlu bagiku semua
itu meski sebenarnya aku merindukannya.
Tapi ibu, jangan kau larang aku menangisi kepergianmu. Aku tak sanggup
membendung air mata yang mendesak keluar. Biarlah…kali ini aku seperti lelaki
cengeng yang rapuh. Akan kututupi wajahku dengan kedua telapak tanganku agar
orang-orang tak tahu bahwa aku sedang menangis.
Tapi badanku terguncang ibu..
Entah kenapa.., semakin keluar air mata
ini semakin berguncang seluruh tubuhku. Dulu, ketika aku dipukuli dengan
teman-teman sebayaku aku menangis dan berlari kepangkuanmu, badanku terguncang
juga ibu, tapi kau segera meraih pundakku dan meletakkannya dalam pelukanmu.
Kini, siapa yang hendak meraih pundak ini lagi? Aku akan merindukan desahan
nafasmu ketika beban yang kau tanggung ingin kau lepaskan sejenak.
Aku akan merindukan senyum di balik
tangismu yang kau rahasikan untukku.
Aku akan merindukan semua tentangmu
ibu..tak ada luka yang semakin menganga yang pernah kurasakan melainkan luka
yang kurasakan karena kehilanganmu selamanya..
***
1996 Ketika pada akhirnya kitapun akan
sendiri
Perjuangan ini belum berhenti. Aku
mencoba membalut sisa-sisa luka yang belum juga kering. Masih panjang jalan
yang harus aku lalui. Ada janji untuk ayah tercinta. Aku sudah kebal dengan
perihnya kehidupan. Takkan kubiarkan air mata ini menetes lagi. Tinggal
selangkah lagi impian untuk kuliah akan terwujud. Aku harus bisa melepaskan
diri kemiskinan hidup, takkan kuwariskan kemiskinan kepada anak cucuku.
Tak ada waktu yang dibuang sia-sia. Waktu
sangat berharga bagiku kini. Aku akan pulang lagi dan membawa kabar gembira
untuk ayah tercinta. Umurku 17 tahun sudah. Tangga ketiga sedang aku lalui. Aku
akan berjuang dengan darah dan air mata, demi sebuah impian. Impian seorang
pemuda miskin di sudut dusun. Hari berlalu begitu cepat, dan seolah tak sabar
lagi menunggu waktuku ia berlari meninggalkanku sendiri.
Kabar itu akhirnya datang juga. Sesuatu
yang sempat aku risaukan pun selalu aku kibaskan. Ayah sakit dan butuh pengobatan. Tak ada malam
yang lelap dalam mimpi, tak ada juga siang yang hanyut dalam ketenangan.
Hari-hari aku lalui dengan usaha yang semakin keras. Akan kubawa segudang impian
untuk ayah dan akan kukatakan padanya
“Ayah kita akan melihat indahnya ciptaan
Allah. Kita akan keliling dunia, dan akan kubawa ayah pergi kemanapun ayah mau”
Namun, sepertinya takdir hendak berkata
lain. Perjalanan ini hendak memaksaku untuk menjalaninya sendiri.
“Malik, ayah yakin kau bisa menempuh
kerasnya hidup ini dengan tegar. Ayah melihat ketegaran dari sorot matamu.
Kelak, jika ayah nanti telah tiada ingatlah tak ada tempat bersandar dalam
hidup ini melainkan hanya kepada Allah SWT” pesan ayah terakhir. Aku
terdiam menatap ubannya yang memutih. Lekat-lekat aku mengamati wajahnya yang
semakin lemah. Kali ini aku bertahan untuk tak menumpahkan air mata. Telah
banyak air mata terbuang sia-sia. Tak
guna kalimat-kalimat penghibur kali ini. Tak mempan kalimat puitis saat ini.
Hatiku terlalu basah oleh air mata yang menggenang. Aku diam dalam bisu,
terdiam dalam tangisan tanpa air mata. Aku tak tahu harus berkata apa lagi.
Ketika pada akhirnya aku menyadari bahwa kita semua kelak akan sendiri.
***
Tanpamu Ayah…
Entah kekuatan dari mana akhirnya aku
membawa diri menuju kota ini. Aku menginjakkan kaki di kota Padang tanpa bekal
apa-apa. Panas yang menyengat memaksa aku berhenti di terminal dan memesan
minuman. Jiwa muda yang membakar semangatku yang akhirnya mengantarkan aku tiba
di kota ini. Kerja keras yang selama ini aku lewati membuahkan hasil yang indah
meski aku sadar ini belum berakhir. Aku diundang disebuah Universitas Padang
sebagai mahasiswa undangan yang berprestasi. Tujuanku sudah pasti yakni kuliah.
Hari merambat malam. Aku masih berdiri di
terminal yang bising ini. Penjual makanan mulai berdatangan. Kendaraan
berlalu-lalang menurunkan dan menaikkan penumpang. Suara klakson ibarat musik
yang tak berhenti menjerit di telingaku. Sura manusia yang berteriak menawarkan
dagangannya, kernet bus yang mencari penumpang, penjual minuman, rokok, mainan
dan lainnya memusingkan kepalaku. Aku terduduk letih. Di mana hendak kurebahkan
tubuh lelahku malam ini? Tiada sanak saudara atau kenalan yang hendak dimintai
tolong saat ini. Senja semakin temaram, ketika lelah ini mengajarku bertahan
maka kuputuskan untuk menjadikan terminal ini sebagai rumah pertamaku.
Beralaskan kardus aku rebahkan tubuhku dan bersiap menanti esok pagi yang lebih
cerah.
Mataku terlalu lelah hingga akhirnya
benar-benar terpejam erat. Tapi kemudian aku tersentak kaget ketika merasakan ada sesuatu
yang menggerakkan tubuhku pelan-pelan. Aku kaget. Malam mulai larut ketika aku
menyadari ada yang mencopet tas dan dompetku. Aku periksa kembali barang
bawaanku, uang yang aku bawa sebagai bekal beberapa hari ke depan sudah ludes.
Oh Allah, hatiku nelangsa melihat semua ini. Sayup-sayup terdengar suara musik lagu
Ebiet G Ade dari ujung terminal yang membuat air mata ini perlahan menetes
kembali.
Ayah…Dalam hening sepi kurindu..
Untuk.. Menuai padi milik kita.
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban..
Engkau telah mengerti hitam dan merah
jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar
matahari
Kini kurus dan terbungkuk.
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar kau tetap
setiaa….
***
10 Tahun Kemudian
Tiada kesuksesan tanpa usaha yang
maksimal. Pepatah itu kembali terngiang di telingaku. Apa yang kudapatkan kini
adalah buah dari sebuah perjalan panjang dan berliku.
“Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang
engkau dustakan?”
Semoga aku selalu menjadi pribadi hamba
yang selalu bersyukur. Ternyata Allah tak milihat hasil yang kita raih tapi Dia
lebih melihat proses perjalan yang kita lalui.
“Man jadda wa jadda” Dan pepatah ini juga
semakin meyakinkan diriku bahwa kesungguhan akan mengantarkan kita kepada hasil
yang memuaskan. Menjadi seorang motivator adalah impian masa kecilku, dan kini
aku berdiri di sebuah panggung yang dihadiri ratusan orang, menunggu dengan
sabar kalimat demi kalimat meluncur dari bibirku. Ah, seandainya mereka tahu
bahwa motivator yang mereka kagumi ini hanyalah seorang pemuda lusuh yang
selalu mendapat hinaan pada masa lalu.
By : Rida By
Langganan:
Postingan (Atom)
