Minggu, 25 Desember 2016

Training Smart Teaching

Mengawali liburan kali ini, TRUSTCO PEKANBARU mengadakan event Training Smart Teaching. 

Training ini dihadiri oleh guru-guru dan orang tua yang berasal dari Pekanbaru dan beberapa kabupaten di Provinsi Riau. Ada yang berasal dari Dumai, Siak, Taluk Kuantan dan Kampar. 
Pekanbaru
Rida Trustco sebagai MC

Narasumber kali ini adalah seorang Trainer dan Motivator Nasional Mr. Limpad Hadi Pratama dan Mas’ud Tahidin.
Trainer Nasional Limpad Hadi Pratama

Trainer dan Direktur Trustco Pekanbaru Mas'ud Tahidin

Training berjalan dengan lancar, fun, kreatif. 

Di sesi materi hypno teaching ada salah seorang peserta yang mampu mematahkan pensil dengan jari kelingkingnya. Sugesti yang diberikan pemateri benar-benar membuat peserta yakin 100% mampu mematahkan pensil dengan jari kelingkingnya.

Peserta Training yang bisa mematahkan pensil dengan jari kelingking

Ada juga beberapa peserta yang mencapai level sugesti 15% sehingga susah kembali merenggangkan tangannya. Disesi selanjutnya Trainer mengajak semua peserta untuk muhasabah dan terakhir ditutup dengan workshop media pembelajaran di sesi ini peserta diajak untuk mengeluarkan semua ide-ide dan kreatifitasnya untuk membuat media yang unik, cantik dan kreatif dengan bahan kertas karton, origami, dan koran bekas.
Peserta yang terhypno


Smart Teaching



Bagi anda yang ingin mengundang TRUSTCO PEKANBARU untuk mengisi pelatihan di sekolah-sekolah dapat menghubungi Mas’ud 0812 6896 3666 dan Rida 0811 753 6667

Rabu, 07 Desember 2016

Ikutilah TRAINING SMART TEACHING

Menjadi Guru Asyik & Smart
TRAINING SMART TEACHING

Smart Teaching Training adalah Training untuk Meningkatkan Kualitas Pribadi dan Teknik Mengajar Guru dengan Pendekatan Metode Quantum Teaching dan Hypno-teaching. Mengajar adalah seni dan bukan sekedar transfer pengetahuan. Karena itu dibutuhkan jiwa kreatif, inovatif, aktif, dan dinamis dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. Di sisi lain, berdasarkan teori quantum teaching, PBM yang berhasil dan dikehendaki adalah PBM yang diselenggarakan dengan suasana menyenangkan sehingga terjalin komunikasi yang kondusif antara guru dan siswa. Proses pembelajaran yang terjadi dalam suasana menegangkan dan terlalu serius akan membuat siswa terbajak secara emosi. Suasana seperti ini akan membuat siswa tidak berada dalam kondisi yang optimal untuk menerima pelajaran bahkan cenderung untuk menolak karena pikiran mereka terbajak secara emosi.

Salah satu metode yang sekarang ini sedang booming adalah hypnoteaching yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan teknik-teknik hipnosis. Teknik hipnosis pada dasarnya adalah suatu teknik mempengaruhi pikiran bawah sadar sehingga pesan dan informasi yang kita sampaikan dapat dengan mudah diterima oleh lawan bicara. Teknik ini bertumpu pada rahasia teknik komunikasi sugestif dimana proses komunikasi pembelajaran dilakukan dengan menciptakan suasana rileks, pikiran siswa berada pada gelombang alfa, sehingga siswa siap secara emosi dan pikiran menerima pesan dan informasi yang disampaikan guru. Pengajaran menggunakan pendekatan teori hipnosis diyakini dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran, memotivasi siswa dan guru untuk berprestasi.

Ayo ikuti Training Smart Teaching Trustco....!!!
Hari/tgl : Ahad, 25 Desember 2016
Pukul : 08.00 - 16.00
Tempat : Pesona Hotel Pekanbaru
Investasi : HANYA 300.000.

Rabu, 27 April 2016

TRAINING FOR TRAINER TRUSTCO ANGKATAN KE II

Setelah Taining For Trainer angkatan I sukses dilaksanakan pada tanggal 24-25 Oktober 2015 tahun lalu, permintaan dari customer agar Training For Trainer angkatan ke II juga dilaksanakan semakin banyak . Karena melihat banyaknya permintaan juga kebutuhan clien di lapangan, maka Trustco Pekanbaru akhirnya mengadakan TFT II.
Peserta Training mengisi absensi kehadiran di hari pertama


Training ini terbuka untuk umum, mahasiswa, guru, dosen, mubalig dan mubalighah serta calon-calon trainer yang ingin mengasah skilnya di dunia training.
Pada tanggal 23-24 April 2016, Trustco Pekanbaru akhirnya sukses mengadakan TFT II di Pesona Hotel Pekanbaru. 



Kegiatan Training Hari Pertama



Pemaparan materi Andragogi oleh Trainer Dr. Afrianto, S.Pd., M.Ed

Training selama dua hari ini diisi dengan kegiatan full praktek. Satu hari training indoor dan satu hari training outdoor. Peserta tidak hanya dibekali ilmu publik speaking tetapi juga dibekali dengan ilmu ice breaking dan fun game.


Kegiatan Outdoor


Sesi terakhir dan penutupan




Adapun Trainer yang mengisi TFT II Trustco kali ini adalah :
Mas'ud Tahidin, S.Pt., CPHRM
Dr. Afrianto, S.Pd., M.Ed
Syamrida, S.Pd.I

Untuk info training selanjutnya silahkan hubungi Masud 0812 6896 3666 dan Rida 0821 6966 0004

Live and Get Success with Trust

Trustco Pekanbaru Selalu di hati...


Sabtu, 09 April 2016

SURVEI LOKASI KE LEMBAH HARAU SUMATERA BARAT


Trustco Pekanbaru tidak hanya akan terus meningkatkan kualitasnya juga meningkatkan pelayanan serta produk jasa yang lebih menarik. Kedepan, Trustco Pekanbaru akan mengajak anda semua untuk mengadakan Familiy Gathering, Outbound atau Fun Game ke tempat wisata luar daerah seperti Sumbar dan yang lainnya.

Jumat tanggal 8 April 2016, kami team Trustco Pekanbaru melakukan survei lokasi ke Lembah Harau Sumatera Barat. Perjalanan selama lima jam tersebut terasa menyenangkan karena team juga membawa serta keluarga. Survei sambil piknik, begitulah kira-kira. Berangkat pagi sekitar jam delapan dan kami tiba di lokasi pukul 13.00.


Lembah Harau adalah sebuah ngarai dekat kota Payakumbuh di kabupaten Limapuluh Koto, provinsi Sumatera Barat. Lembah Harau diapit dua bukit cadas terjal dengan ketinggian mencapai 150 meter. Lembah Harau .dilingkungi batu pasir yang terjal berwarna-warni, dengan ketinggian 100 sampai 500 meter. Topografi Cagar Alam Harau adalah berbukit-bukit dan bergelombang.




Perjalanan menuju Lembah Harau amat menyenangkan. Bagaimana tidak, selama perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan sawah yang membentang luas, pegunungan, dan udara yang masih segar. Sejenak kelelahan menguap ketika tiba di lokasi ini. Makan siang sambil menikmati alam yang hijau, perbukitan serta tebing tinggi.


 Menikmati Makan siang di Pondok Sari Banila, yang membuat anda berselera makan adalah suasananya yang benar-benar hijau dan sejuk.


Salah satu pondok penginapan di lembah Harau ; Sari Banila pondok kami menginap selama satu malam

Dan yang sangat istimewa adalah menikmati udara dingin sambil berenang di sungai dengan air terjunnya yang sangat indah.


Lokasi Air Terjun


Dayun Sampan 


Subhanallah.....Sungguh Indah Alam Ciptaan-Nya.
Kami rasa, tempat ini sangat cocok untuk dijadikan tempat Family Gathering, Outbound, Fun Game sekaligus piknik bersama Team, Karyawan atau bersama keluarga.


Terakhir Bagi anda yang ingin kesana bersama Trustco Pekanbaru silahkan hubungi Masud Tahidin 0812 6896 3666 atau Team Trustco Rida 0821 6966 0004

Sabtu, 26 Maret 2016

ACHIEVEMENT MOTIVATION & TEAM BUILDING

Pada tanggal 19-20 Maret 2016 Universitas Islam Negeri Suska Riau melaksanakan pembinaan bagi mahasiswa penerima Beasiswa Bidik Misi.
Dalam hal ini Trustco Riau beperan sebagai EO (Event Organizer) memberikan Training Achievement Motivation dan Team Building Outbound.  Materi Indoor diisi oleh Trainer Nasional Trustco Mohammad Rosiman dan Masud Tahidin. Dengan dibantu oleh beberapa team Trustco Riau, acara terselenggara dengan sukses.










Kamis, 21 Januari 2016

Orang Pertama Datang


Hampir bisa dipastikan tidak ada di antara kita yang pernah ketinggalan pesawat, justeru yang sering terjadi itu adalah maskapai penerbangan kitalah yang sering menunda keberangkatan (delay) dengan alasan teknis dan lain sebagainya. Bahkan saya secara pribadi biasanya sudah check-in dan berada di boarding room (ruang tunggu) satu jam sebelum keberangkatan. Maka kalau sudah begitu, berjalan ke toko buku Bandara sesuatu yang mengasyikkan.
Terlepas dari itu semua yang mau kita sorot kali ini adalah kenapa kita tidak pernah ketinggalan pesawat? Jawabannya bisa beragam. Bisa karena tiket yang sudah kita bayar mahal, pesawat yang tidak kenal kata “tunggu” atau bagi umumnya orang durasi naik pesawat bukan seperti naik sepeda motor atau mobil. Namun pelajaran penting yang mau kita petik dari peristiwa mengejar pesawat ini adalah menghargai waktu.
Nah, sekarang coba bandingkan respon diri kita dengan agenda-agenda lainnya. Alasan-alasan keterlambatan dalam berbagai pertemuan kita gulirkan untuk mendapatkan pemaafan. Mungkin berbagai excuse itu ada benarnya, atasan atau orang lain bisa memaklumi, tapi dalam rangka membangun jiwa yang kuat dan disiplin diri semua itu akan menurunkan nilai.
Banyak juga cara untuk kita bisa mengalahkan keterlambatan dalam berbagai agenda hari-hari yang kita lalui. Di antaranya, meluruskan cara berpikir (mindset). Sebagian berpikir bahwa masih ada orang lain yang akan hadir dalam pertemuan tersebut, saya bukan orang yang ditunggu-tunggu (bahkan kalau tidak datang agenda akan tetap berjalan). Pikiran kita adalah rahim dari sikap, orang bisa membaca pikiran kita lewat bayi-bayi perilaku yang tumbuh. Karena itu seseorang bisa mengetahui bahwa kita orang yang sulit maju dalam percaturan kehidupan ini lewat keterlambatan-keterlambatan yang kita tabung.
Setelah tumbuh mindset yang benar ini, bahwa sayalah orang pertama yang harus datang, saya akan menyambut orang-orang dengan senyum dan sapaan yang akrab. Maka tugas berikutnya adalah mensiasati bagaimana kita tidak terlambat. Berlakulah seperti orang-orang yang tidak mau ketinggalan pesawat. Kalau agendanya pagi, maka pada malam sebelumnya kita sudah bersiap-siap, apakah pakaian yang disetrika, ransel, sepatu, dan lain sebagainya. Persiapkan semua itu, sehingga esoknya tidak mudah terlupakan, dan kita tinggal berfokus dengan keberangkatan.
Kemudian kalau kita menggunakan kendraan pribadi ceklah terlebih dahulu, sehingga mengurangi resiko rusak di perjalanan. Dan kalau berjalanan kaki berjalanlah yang cepat, itu semua bisa menghilangkan kelesuan. Dan tentunya jangan lupa juga untuk makan atau sarapan, dengan begitu di perjalanan kita tidak lagi memikirkan perkara tersebut.
Jadilah orang yang pertama datang dalam setiap pertemuan. Kalaupun ada rintangan jangan lupa memberitahu yang bersangkutan secepat mungkin. Orang penting bukan ditentukan oleh posisi, tapi oleh sikap-sikap baik yang dirutinkan. Bukankah kestabilan alam semesta dipengaruhi oleh orang-orang baik!

Wamdi Jihadi

Penulis buku “Menuju Jalan Terang”

Selasa, 19 Januari 2016

Zero to Hero

Publik Speaking

Manejemen Waktu



Motivasi Berprestasi


Manajemen Diri



Komunikasi

MENGGAPAI IMPIAN


1991 Senja di Dusun Susup 

Aku menyusuri tapak demi tapak jalan penuh lumpur menuju gubug kecilku. Dengan peluh keringat yang mengucur kutenteng ijazah SD yang baru saja aku dapatkan. Aku sudah tamat sekolah dasar kini. Akan kuberi tahu ibu bahwa anak lelakinya sebentar lagi akan menjadi remaja tangguh.
Aku menyuci kakiku yang berlumpur di samping pintu gubug kami. Mencari ibu di sudut ruang rumahku yang temaram, sedang apakah  ibu?
Kau sudah pulang nak?” ibu menyapaku sambil menyeka keringat di keningku. Aku tersenyum bahagia menatap wajahnya yang teduh.
“Lihatlah bu, aku sudah menyelesaikan sekolah dasarku. Aku akan melanjutkan ke SMPkan bu?” ucapku sambil menyerahkan ijazah yang ada di tanganku. Ibu  tersenyum lalu menarik nafas dalam-dalam.
“Kau akan melanjutkan sekolah lagi nak? Apa tidak bantu ayahmu ke ladang dulu?” hati-hati ibu mengucapkan kata itu. Aku terdiam. Ya aku mengerti arah pembicaraan ibu. Jangankan membiayai sekolah, biaya hidup kami sehari-haripun begitu susah. Tapi aku lelaki, sampai kapan aku bergelut dalam kemiskinan ini? Aku ingin sukses ibu, harus! Tak mungkin aku dengan senang hati menurunkan kemiskinan ini ke anak cucuku kelak.
“Ibu…” ucapku kemudian
“Aku tak mengharapkan apa-apa dari ayah dan ibu, aku hanya mengharapkan doa yang tiada henti dari ibu juga ayah. Aku akan berusaha melanjutkan sekolahku, akan kulakukan untuk membahagiakan ayah dan ibu nantinya. Aku ingin sekali melihat ibu anggun memakai kebaya cantik yang baru aku beli kelak, atau melihat ayah tersenyum bangga ketika kuajak keliling kota dengan mobil pribadiku. Aku berjanji untuk mempersembahkan itu semua untuk ayah dan ibu, percayalah ibu sayang, bila ibu meridhoi langkahku insyaallah semua akan mudah…” aku sadar ketika mengucapkan kalimat itu. Ia meluncur begitu saja dari lubuk hati yang paling dalam. Dan kulihat air mata bening menetes satu-satu dari sudut mata ibuku.
“Ibu selalu berdoa untukmu nak…berdoa terus agar Allah selalu memberi yang terbaik untukmu.” Lalu ibu mendekapku dalam pelukan hangatnya. Ia mungkin sadar anaknya kini bukan bocah ingusan lagi.
***
Aku mencium kening ibu sekali lagi, mengusap air matanya yang semakin mendesak keluar. Lalu kusalami ayah yang lebih banyak berdiam diri. Aku tak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Tapi, dari tatap matanya aku membaca seribu harapan untuk anaknya yang malang ini.
“Baik-baik kau di sana, belajarlah sungguh-sungguh. Ingat impian yang kau ucapkan pada ibumu beberapa hari yang lalu.” Ucap ayah sambil mengusap kepalaku.
“Tentu ayah..aku takkan melupakan janjiku..” bisikku dalam hati.
Lalu aku memulai sebuah babak baru dalam kehidupanku. Jauh dari kampung halaman, jauh dari tegur sapa ayahanda, jauh dari tatap lembut sang ibu, dan jauh dari keheningan dusunku yang tenang. Aku mulai kembali dari awal, seorang remaja tanggung hendak mencoba mengecap pahitnya kehidupan. Ah, pahitnya berapa? Sejak kecil aku telah disuguhkan dengan pahit asam manis kehidupan ini. Hanya satu yang menjadi pemicu langkah-langkahku, yang membakar panas semangat jiwaku, yakni tatapan sayu sang ibu. Aku takkan kembali sebelum mempersembahkan yang terbaik untuknya.

1993 Aku kembali dan hendak pergi lagi ibu..
Wajah ayah yang semakin menua tersenyum cerah menyambut kepulanganku. Tangga pertama telah berhasil kulewati. Aku menyelesaikan sekolah menengah pertama dengan  hasil yang memuaskan. Aku akan mengatakan kepada ibu yang senantiasa memendam rindu “Ibuku sayang…aku berhasil, tapi masih ada tangga-tangga yang harus aku lalui lagi ibu..”
Ibu membelai rambutku yang keras karna sering tak bersampo. Memandang lekat kulitku yang semakin kering dan menghitam akibat sering terpanggang panas mentari. Mungkin ibu berkata “Ah..bocahku dulu, yang sering merengek dan minta digendong..yang sering menggangguku ketika sedang memasak di dapur, yang menangis kencang ketika kemauannya tak kuturuti…kini telah menjadi pemuda tampan dan  gagah.”  Aku bisa membaca eksrpesi wajah ibuku yang sangat bahagia saat itu.
“Kau sangat hebat Malik. Ibu tak sia-sia membesarkanmu. Kini kemana kau hendak melanjutkan sekolahmu lagi?” kata ibu ketika kami sedang menikmati tempe goreng dan sayur ubi rebus malam itu.
“Hidup ini memang harus ditantang ibuku sayang…kita tak boleh menyerah dengan nasib” jawabku sambil tersenyum bak seorang pemuda yang sok wibawa. Ibu tersenyum, ayah tertawa kecil. Aih… anak lelakinya sudah seperti seorang motivator. Pikirnya..
“Aku akan mencoba melanjutkan sekolah di kota lagi. Ibu jangan khawatir, aku bisa menjalaninya sendiri. Yang penting ayah dan ibu jangan berhenti mendoakanku.”
Ayah menatapku bangga. Aku bukanlah bocah ingusan yang cengeng lagi ayah. Lihatlah aku sudah besar kini. Aku bukan remaja tanggung lagi, aku sudah bisa berdiri di atas kakiku sendiri, meski dengan tetes darah dan air mata yang senantiasa kusimpan erat. Tak perlu kuceritakan lagi luka ini, agar kalian hanya mendengar berita yang menyenangkan tentang anakmu yang berprestasi.
Tak ada yang lebih sakit melainkan kerinduan yang tertahan untuk menatap wajah ibu dan mencium punggung tangan ayah. Lebih berat dari memanggul berkilo-kilo barang di pasar yang tiap sore aku kerjakan. Lebih sakit dari bentakkan, hinaan dan caci maki orang yang sering aku terima tiap hari.
Tidak… aku takkan menangis iri ketika melihat temanku yang lain diantar jemput orang tuanya di pintu gerbang sekolah, atau ketika melihat salah seorang temanku dengan bangga menceritakan kekayaan orang tuanya. Yang aku tangisi tiap malam itu adalah ketika aku tak bisa merasakan belaian seorang ibu, dan tak mampu menyalami tangan ayah ketika pamit hendak berangkat sekolah.
Dan kini, aku akan pergi lagi…
“Perjuanganmu masih panjang Malik. Bertahanlah. Seperti yang kau katakana kau bisa berdiri di atas kakimu sendiri. Ayah akan melihat itu” pesan ayah sebelum aku pergi. Aku mengangguk. Lalu aku menyalami tangan ibu dan menatap terakhir kalinya senyum indah yang tak pernah aku lupakan seumur hidupku.
“Ibu selalu mendoakanmu nak..” kembali ibu memelukku erat. Aku merasakan detak jantung yang akan kubawa kemana saja aku pergi. Separuh jiwaku padamu ibu..
***
Rangkaian hari-hari telah mampu membentuk karakterku yang keras. Hidup adalah perjuangan. Aku takkan menyiakan umur dengan penyesalan yang tak berujung. Dan malam ini, aku duduk di lantai kamarku yang pengap. Kelelahan telah menjadi suguhan makan malamku tiap hari dan hari ini tertatih-tatih aku menyelesaikan seluruh tugas yang harus diselesaikan. Ujian sebentar lagi dan aku harus meraih kembali prestasi yang selama ini telah aku pegang. Satu tujuanku saat ini yakni hendak meraih beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Dan..wajah ibu terbayang lagi, juga gurat tua di sudut bibir ayahku. Malam itu aku tak bisa memejamkan mataku, gerah yang membakar sekujur tubuhkan membuatku keluar dan menikmati sapuan angin malam.
“Malik..ada titipan surat untukmu..” tiba-tiba Aldi teman sebelah kamarku menyerahkan sebuah amplop. Aku meraih dan membaca isinya. Pelan-pelan sekali aku membacanya, tak sedikitpun tanda baca aku lewatkan. Seperti yang dulu-dulu, surat ayah adalah obat kerinduan yang sangat berharga bagiku. Kali ini ada yang berbeda. Dari guratan tangan ayah aku membaca sebuah petanda buruk meski aku belum selesai membaca ujungnya.
Ibu…
Jantungku bergetar hebat. Sedetik darahku berhenti mengalir. Ibu … Ya,  ibuku sakit keras dan aku harus pulang. Waktu seolah sangat lambat berputar. Tak mungkin aku menunggu hingga fajar menyingsing. Ini panggilan cinta, dan tak ada yang mampu menghalangi.
Angin malam menerpa tubuhku yang ringkih. Aku tak sempat memperhatikan penampilan seperti layaknya remaja tangguh lainnya. Aku tak sempat memikirnya. Waktuku telah habis terkuras demi sebuah cita-cita dan impian. Aku pulang, kali ini hendak melihat wajah sendu ibu dengan kerinduan yang memuncak.
Masih subuh ketika aku menapaki kaki di sudut kampungku. Perjalanan semalam tak menghentikan langkah kaki untuk segera bertemu dengan ibu, tidak! Aku harus menggenggam tangannya, membisikkan kata-kata motivasi untuknya, berjanji akan segera membawanya ke kota dan hidup lebih layak.
Aku terus berlari menembus dinginnya angin yang semakin menusuk tajam urat nadiku. Semakin kuat berlari semakin jauh rasanya ujung yang hendak kuraih. Aduh, ini seperti dalam mimpi-mimpi buruk itu. Yang kadang-kadang menjelma dalam tidur singkatku dan menghentakkanku dalam kesadaran lalu berkata ‘ini hanya mimpi Malik, tenanglah semua baik-baik saja’. Kuhapus air mata yang tidak juga berhenti keluar, ah..air mata ini kenapa juga dia harus memaksa keluar, ia hanya menghalangi pemandangan mataku. Berpikrlah positif, bisikku. Tapi  entah mengapa aku mencium hawa kedukaan dari angin yang menerpa wajahku ini.
Mentari menampakkan sinarnya ketika aku melihat orang-orang sibuk di depan gubukku. Tenda-tenda di pasang, kursi dijejer rapi. Para ibu-ibu sibuk ke sana kemari entah apa yang mereka kerjakan. Aku mempercepat langkahku sambil mengatur nafasku yang terengah-engah. Dan ketika tiba di depan pintu kulihat ayah yang duduk menatap sendu wanita tua yang tertidur pulas di hadapannya. Tas yang kugenggam tiba-tiba terlepas dari genggamanku, air mata yang sedari tadi menghalangi pemandanganku kini tumpah tak terbendung lagi. Apa? Apa yang terjadi? Aku melangkah pelan menuju tempat ibuku terbaring, orang-orang menatapku iba. Ayah, ia bahkan tak menatap wajahku. Aku melihat mendung yang menutupi wajahnya.
Ibu…” bisikku pelan, tak ada jawaban. Ibu seolah nikmat dalam tidur panjangnya. Kucoba membelai rambutnya, barangkali dia tersentak dan membuka matanya, kemudian mengucapkan sesuatu untukku.
 “Ibu…sekali saja..kumohon beri aku kata-kata penyemangat jiwaku. Bukankah ibu akan menungguku membawakan kebaya cantik? Bukankah ibu akan menanti kedatanganku dan membawa ibu pergi keliling kota? Ibu..kenapa semua diam?” ucapku tergugu. Tak ada yang mencoba menjawab kata-kataku. Orang-orang di ruangan ini seolah bisu, hanya ada isak tangis yang menghiasi sudut-sudut rumahku.
“Ibumu meninggal tadi subuh Malik..dia sudah tenang kini, sabarlah semoga Allah memberi kekuatan kepadamu.” Salah seorang tetanggaku mencoba menghiburku. Berarti aku terlambat satu jam saja?  Oh, kenapa kaki ini tak kuat juga berlari kencang? Hinggah aku bisa merasakan hembusan nafas terakhir ibuku? Aku meratapi nasibku sendiri.
Aku terduduk lemas. Luka ini belum juga sembuh ibu, aku bahkan mengharap engkau datang dan meraih pundakku dalam pelukanmu. Aku memang sudah menjelma sebagai lelaki dewasa yang sudah matang menerima getirnya kehidupan, tapi di satu sisi aku adalah seorang anak yang rindu tatapanmu. Biarlah…tak perlu aku menangis ketika kau tak hadir disaat penerimaan hasil akhir belajarku, tak perlu aku menangis ketika kau tak sempat memasakkan sarapan yang enak untukku tiap pagi, karna tak perlu bagiku semua itu meski  sebenarnya aku merindukannya. Tapi ibu, jangan kau larang aku menangisi kepergianmu. Aku tak sanggup membendung air mata yang mendesak keluar. Biarlah…kali ini aku seperti lelaki cengeng yang rapuh. Akan kututupi wajahku dengan kedua telapak tanganku agar orang-orang tak tahu bahwa aku sedang menangis.
Tapi badanku terguncang ibu..
Entah kenapa.., semakin keluar air mata ini semakin berguncang seluruh tubuhku. Dulu, ketika aku dipukuli dengan teman-teman sebayaku aku menangis dan berlari kepangkuanmu, badanku terguncang juga ibu, tapi kau segera meraih pundakku dan meletakkannya dalam pelukanmu. Kini, siapa yang hendak meraih pundak ini lagi? Aku akan merindukan desahan nafasmu ketika beban yang kau tanggung ingin kau lepaskan sejenak. 
Aku akan merindukan senyum di balik tangismu yang kau rahasikan untukku.
Aku akan merindukan semua tentangmu ibu..tak ada luka yang semakin menganga yang pernah kurasakan melainkan luka yang kurasakan karena kehilanganmu selamanya..
***
1996 Ketika pada akhirnya kitapun akan sendiri
Perjuangan ini belum berhenti. Aku mencoba membalut sisa-sisa luka yang belum juga kering. Masih panjang jalan yang harus aku lalui. Ada janji untuk ayah tercinta. Aku sudah kebal dengan perihnya kehidupan. Takkan kubiarkan air mata ini menetes lagi. Tinggal selangkah lagi impian untuk kuliah akan terwujud. Aku harus bisa melepaskan diri kemiskinan hidup, takkan kuwariskan kemiskinan kepada anak cucuku.
Tak ada waktu yang dibuang sia-sia. Waktu sangat berharga bagiku kini. Aku akan pulang lagi dan membawa kabar gembira untuk ayah tercinta. Umurku 17 tahun sudah. Tangga ketiga sedang aku lalui. Aku akan berjuang dengan darah dan air mata, demi sebuah impian. Impian seorang pemuda miskin di sudut dusun. Hari berlalu begitu cepat, dan seolah tak sabar lagi menunggu waktuku ia berlari meninggalkanku sendiri.
Kabar itu akhirnya datang juga. Sesuatu yang sempat aku risaukan pun selalu aku kibaskan.  Ayah sakit dan butuh pengobatan. Tak ada malam yang lelap dalam mimpi, tak ada juga siang yang hanyut dalam ketenangan. Hari-hari aku lalui dengan usaha yang semakin keras. Akan kubawa segudang impian untuk ayah dan akan kukatakan padanya
 “Ayah kita akan melihat indahnya ciptaan Allah. Kita akan keliling dunia, dan akan kubawa ayah pergi kemanapun ayah mau”
Namun, sepertinya takdir hendak berkata lain. Perjalanan ini hendak memaksaku untuk menjalaninya sendiri.
Malik, ayah yakin kau bisa menempuh kerasnya hidup ini dengan tegar. Ayah melihat ketegaran dari sorot matamu. Kelak, jika ayah nanti telah tiada ingatlah tak ada tempat bersandar dalam hidup ini melainkan hanya kepada Allah SWT” pesan ayah terakhir. Aku terdiam menatap ubannya yang memutih. Lekat-lekat aku mengamati wajahnya yang semakin lemah. Kali ini aku bertahan untuk tak menumpahkan air mata. Telah banyak air mata terbuang sia-sia.  Tak guna kalimat-kalimat penghibur kali ini. Tak mempan kalimat puitis saat ini. Hatiku terlalu basah oleh air mata yang menggenang. Aku diam dalam bisu, terdiam dalam tangisan tanpa air mata. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Ketika pada akhirnya aku menyadari bahwa kita semua kelak akan sendiri.
***
Tanpamu Ayah…
Entah kekuatan dari mana akhirnya aku membawa diri menuju kota ini. Aku menginjakkan kaki di kota Padang tanpa bekal apa-apa. Panas yang menyengat memaksa aku berhenti di terminal dan memesan minuman. Jiwa muda yang membakar semangatku yang akhirnya mengantarkan aku tiba di kota ini. Kerja keras yang selama ini aku lewati membuahkan hasil yang indah meski aku sadar ini belum berakhir. Aku diundang disebuah Universitas Padang sebagai mahasiswa undangan yang berprestasi. Tujuanku sudah pasti yakni kuliah.
Hari merambat malam. Aku masih berdiri di terminal yang bising ini. Penjual makanan mulai berdatangan. Kendaraan berlalu-lalang menurunkan dan menaikkan penumpang. Suara klakson ibarat musik yang tak berhenti menjerit di telingaku. Sura manusia yang berteriak menawarkan dagangannya, kernet bus yang mencari penumpang, penjual minuman, rokok, mainan dan lainnya memusingkan kepalaku. Aku terduduk letih. Di mana hendak kurebahkan tubuh lelahku malam ini? Tiada sanak saudara atau kenalan yang hendak dimintai tolong saat ini. Senja semakin temaram, ketika lelah ini mengajarku bertahan maka kuputuskan untuk menjadikan terminal ini sebagai rumah pertamaku. Beralaskan kardus aku rebahkan tubuhku dan bersiap menanti esok pagi yang lebih cerah.
Mataku terlalu lelah hingga akhirnya benar-benar terpejam erat. Tapi kemudian aku  tersentak kaget ketika merasakan ada sesuatu yang menggerakkan tubuhku pelan-pelan. Aku kaget. Malam mulai larut ketika aku menyadari ada yang mencopet tas dan dompetku. Aku periksa kembali barang bawaanku, uang yang aku bawa sebagai bekal beberapa hari ke depan sudah ludes. Oh Allah, hatiku nelangsa melihat semua ini. Sayup-sayup terdengar suara musik lagu Ebiet G Ade dari ujung terminal yang membuat air mata ini perlahan menetes kembali. 


Ayah…Dalam hening sepi kurindu..
Untuk.. Menuai padi milik kita.
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban..

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk.
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar kau tetap setiaa….
***
10 Tahun Kemudian
Tiada kesuksesan tanpa usaha yang maksimal. Pepatah itu kembali terngiang di telingaku. Apa yang kudapatkan kini adalah buah dari sebuah perjalan panjang dan berliku.
“Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”
Semoga aku selalu menjadi pribadi hamba yang selalu bersyukur. Ternyata Allah tak milihat hasil yang kita raih tapi Dia lebih melihat proses perjalan yang kita lalui.
“Man jadda wa jadda” Dan pepatah ini juga semakin meyakinkan diriku bahwa kesungguhan akan mengantarkan kita kepada hasil yang memuaskan. Menjadi seorang motivator adalah impian masa kecilku, dan kini aku berdiri di sebuah panggung yang dihadiri ratusan orang, menunggu dengan sabar kalimat demi kalimat meluncur dari bibirku. Ah, seandainya mereka tahu bahwa motivator yang mereka kagumi ini hanyalah seorang pemuda lusuh yang selalu mendapat hinaan pada masa lalu.



By : Rida By